Selasa, 24 April 2012

RASA HUTAN_II

Mama aku ingin bermalam kebukit sana. Dari jiwa yang terpedam ingin menjelajah. Aku butuh izin mu ma, agar berangkat selamat. Mama aku ingin kesana melampiaskan gairah
Aku mungkin ingin bernyanyi bersama burung. Memanjat pohon buah dengan primata. Bisa juga ke air terjun untuk mandi dalam kolam ikan dan udang.
Hahaaa.. para monyet ketawa lucu. Semuanya adalah alasan lugu tak sangat perlu,
            Kalaupun sesampai di pucuk pohon, ku lihat langit hitam, aku tetap bergairah karena sudah ku rasai hutan, sudah ku tunjukkan pada hutan bahwa aku pernah datang merasakan tanahnya dan airnya. Karena hari itulah, aku berkeinginan berbuat lebih baik di tanah ini, di air ini.
 . . . . . . . . . . .
Mama, apa aku harus beraksen, karena terlalu klise?
Baiklah, diantara dua samudera dan dua benua! aduhai Mama ku yang juwita;
lihatlah aku atmaja mu bersila cita yang rindu ancala tinggi. Janganlah berikan angkara, bahna angkasa tunduk pada kasta mu nan awatara bahkan bisa mengutuk antariksa. Mama janganlah taruh mendakwa tapi berikanlah aku bahureksa sebagai penangkal bala dan kejahatan banaspati gelap. Aku berjanji bakti pada mu mama yang baya senja mengasihi ku.
Kau tahu sekarang aku bicara dengan bayu, yang membirahi belantara, aku bukanlah untuk bratapa nan kembara tapi aku pecinta, pecinta butala pertiwi. Silahkan tanya pada teman mu sibulan candra yang menyinariku dari dirgantara. di relung hutan-hutan yang ku cicipi, dia sang candra melihat akulah caraka dari kota menuju rimba, akan ku bawakan untuk mu cendana atau cempaka kesukaan mu, tanpa dusta untuk mu mama; Dari anak mu yang cendekia.
            Mama, hasta ku sangat krida menanam benih-benih harsa.. apa kau tanya harta? Itu pasti! aku mohonkan japa mu yang tak jemu kepada pengatur jagat dan kala yaitu sang gusti Tuhan yang esa, Agar mudah-mudahan memberikan cahaya kirana serta karunia kama
Ku cicipi rasa hutan yang selalu bertanya..ku cari jawabnya..dari orang-orang pilihan alam, menuju surga tak binasa. Duhai ibunda yang senyum telaga, hanya engkau yang patut menyaembara bahasa ku jua relung sukma nirwana ku.